Rabu, 03 Oktober 2012

3600 detik



“Tolonglah, aku mohon..” laki – laki itu memohon. Namun laki – laki di hadapannya hanya menggeleng pelan.

“Aku hanya butuh waktu sebentar saja..”



3600 detik 



3600 Detik.

Junho berjalan dalam diam, menyusuri setiap jalan setapak yang ada di halaman rumah gadis itu. Hari sudah gelap, tengah malam, sunyi. Bahkan ia bisa mengengar suara angin yang berhembus meniup telinganya, ia juga dapat mendengar setiap suara yang keluar dari hewan – hewan liar yang ada di sekitarnya.

Ia terdiam sebentar ketika berdiri di depan pintu kayu jati bergaya Eropa milik rumah gadis itu. Ia mengulurkan tangannya menyentuh gagang pintu terasa dingin di tangannya. Ia menarik pintu itu dan terbuka. Pintunya tidak terkunci. Ia berjalan masuk dan mencari kamar gadis itu. Ia berjalan seperti berjalan dalam rumahnya sendiri, ia hafal di luar kepala denah rumah gadis itu.

Junho telah menemukan kamar gadis itu dengan mudah. Ia membuka pintu kamar gadis itu, tapi kamar itu sunyi. Tak ada orang di dalamnya, tak ada gadis yang ia cari. Ia bingung, tak biasanya gadis itu belum ada di dalam kamarnya tengah malam seperti ini.

Kali ini Junho berjalan cepat meninggalkan tempat itu. ia tidak punya banyak waktu. Ia harus segera bertemu dengan gadis itu. Kakinya terhenti ketika melihat seberkas cahaya mengusik matanya dari balik celah pintu ruangan yang sedikit terbuka. Ia menghampiri ruangan itu, mendorong pintu itu pelan – pelan hingga tak menimbulkan suara.

3180 Detik.

Junho mematung di tempatnya, memandang pada seorang gadis yang sedang terdiam di tempatnya duduk di depan perapian yang hangat. Gadis itu menumpukkan kedua telapak tangan di atas pangkuannya dengan tatapan hampa kearah api yang sedang berkobar di perapian. Gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Junho.

Junho tak sanggup melihat keadaan gadis itu. Gadis itu tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tak pernah berdiam diri di tengah malam, bahkan ia tidak bergerak sedikitpun dari duduknya, ia tidak pernah terlihat murung sebelumnya. Tapi sekarang..

Junho mendesah pelan. Ia merindukan gadis itu, ia tak bisa melihat gadis itu dalam keadaan kacau seperti ini. Ia ingin memanggilnya, tidak hanya melihat gadis itu dari kejauhan seperti ini. Namun apa reaksinya jika gadis itu melihatnya?

2880 Detik.

“Nana-ah,” panggil Junho, jantungnya berdebar sangat cepat sekarang dengan irama yang tidak teratur. Junho menunggu di tempatnya, ia menelan ludahnya, menunggu jawaban dari gadis bernama Nana itu sambil bertanya – tanya dalam hatinya, apa reaksi yang akan Nana keluarkan.

Beberapa detik Junho menunggu jawaban dari Nana, hingga akhrinya Nana mengeluarkan suara, “Junho Oppa?” ujar Nana. Mendengarnya jantung Junho serasa berhenti beberapa detik, matanya membulat besar ketika mendengar Nana memanggil namanya.

“Haha, aku pasti sedang bermimpi,” lanjut Nana tertawa hambar, yang hampir saja menolehkan kepalanya melihat kebelakang, namun belum sempat ia melihat Junho, ia mengurungkan niatnya, kembali memfokuskan pandangannya pada perapian di depannya.

Junho Kembali mendesah. Nana tak akan semudah itu percaya dengan kedatangannya sekarang. Junho merarik nafas dalam – dalam, lalu menghembuskannya, mencoba utnuk mengumpulkan keberaniannya. Junho memberanikan dirinya untuk berjalan mendekat dan kembali memanggil nama gadis itu, “Nana-ah.”

Junho menghentikan langkahnya ketika sudah berdiri di dekat Nana, bahkan ia sudah bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari kobaran api perapian di depan Nana. Ia kembali menunggu jawaban.

Nana menolehkan kepalanya, ia terkejut melihat sosok Junho ada di dekatnya. Ia tak membalas panggilan Junho tadi, tapi ia menarik tubuhnya dari sofa yang di dudukkinya hingga berhadapannya dengna Junho. Ia memandang Junho, dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan ia melihat ada sebuah senyum yang sangat ia rindukan tersulam manis di bibir Junho.

Junho tersenyum, ia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang sangat dicintainya. Ia pun dapat melihat mata Nana yang sembab yang pasti dikarenakan ia sering menangis. Hatinya terasa sakit melihat gadis yang dicintainya harus menangis, menangis karena dirinya.

2280 Detik.

Mereka berdua terdiam dalam hening. Nana menatap kedua mata Junho, tatapan yang dalam hingga menembus saluran darahnya dan membuat darahnya berdesir. Jantungnya kembali berdetak sangat kencang, dua kali lebih kencang dari yang tadi.

Junho sangat ingin mendekat dan merengkuh tubuh Nana yang sekarang tepat berada di hadapannya. Namun ia harus menjaga jarak dengan Nana, ia harus melakukannya. Sekali saja ia menyentuh gadis itu, sel – sel tubuhnya akan bereaksi dan membuatnya tak bisa melepaskan gadis itu.

Ia masih ingat rasanya ketika kehangatan tubuhnya dan Nana bersatu, ia masih ingat betapa hangatnya hatinya ketika ia memeluk tubuh gadis itu. Ia bahkan masih ingat bagaimana bibir gadis itu bersentuhan dengan bibirnya, bagaimana rasa bibir gadis itu di bibirnya. Ia masih ingat semuanya.

Airmata turun dari kedua mata Nana yang sembab, membasahi kedua pipi gadis di hadapan Junho. Nana menangis, menangis dalam diam. Ia tidak mengeluarkan suara, ia juga tidak terisak, ia terus memandang ke dalam mata Junho.

Junho ingin sekali menyeka airmata Nana, ia tak bisa melihat gadisnya menangis seperti itu.

“Oppa.. meninggalkanku,” Nana berkata, suaranya terdengar sangat bergetar.

Mendengarnya Junho tak bisa menahannya, hatinya berkata untuk tidak menarik tubuh gadis itu kedalam pelukkannya, tapi tubuhnya berkata lain. Junho dengan cepat merengkuh tubuh gadis itu, membiarkan semua perasaan rindunya selama ini terlepaskan. Rasa hangat yang sangat terasa di sekujur tubuhnya. Ia bisa merasakan bagaimana tubuhnya sendiri tak dapat menahan perasaannya.

Junho tak berkata apa – apa, ia memejamkan matanya. Memeluk erat gadis itu, menenangkan gadis itu dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis dalam dadanya.

1680 Detik.

Junho menarik dirinya, melepaskan pelukannya. Nana masih menangis, air mata masih mengalir turun dari kedua matanya. Junho mengangkat kedua tangannya, menyeka airmata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.

Nana mengulurkan tangannya menyentuh kedua pipi Junho. Sedikit berjinjit, lalu meletakkan bibirnya tepat di bibir Junho. Junho dapat merasakan bibir Nana yang hangat dan terasa manis menempel di bibirnya, ia dapat merasakan kelembutan tubuh gadis itu ketika bersentuhan dengannya. Junho tak berdaya, ia tak sanggup untuk menolak ciuman ini, ia membalas ciuman gadis itu. Semakin gadis itu mendekatkan diri dan semakin dalam ciuman mereka, membuat Junho semakin merasa sakit.

Junho memeluk pinggang Nana dengan kedua tangannya, menarik tubuh gadis itu lebih dekat dengannya. Dan tanpa sadar, ia menekan belakang kepala Nana, membiarkan sel – sel di tubuhnya mencurahkan seluruh kerinduannya. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher Junho, membuat ciuman mereka semakin intens. Ia tak ingin waktu berlalu dengan cepat, ia ingin terus seperti ini, tapi tak bisa. Waktu akan terus berjalan, waktu tak akan menunggunya.

780 Detik

Beberapa detik kemudian, Junho tersadar, ia berusaha menarik tubuhnya dari Nana. Ia melepaskan ciuman mereka. Ia menarik nafas. “Maafkan aku, Nana-ah,” ujar Junho sangat lirih.

“Wae Oppa? wae?” balas Nana tak kalah lirih.

Junho kembali merengkuh tubuh gadis itu, ia sangat tak ingin kehilangan gadis itu, ia ingin tetap berada di sisinya, selamanya. Tapi takdir berkata lain, ia harus mengucapkannya, mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan, kalimat yang sangat tak ingin di ucapkannya seumur hidup pada Nana.

“Aku harus pergi—” Junho mempererat pelukkannya, ” —aku hanya punya sedikit waktu,” ujarnya.

Junho berhenti, mereka tak mengeluarkan suara. Junho membiarkan dirinya untuk beberapa menit saja memeluk gadis itu, memeluknya erat – erat, seakan tak ingin melepaskan pelukan itu selamanya, memanfaatkan waktunya yang sedikit sebaik mungkin sebelum dia benar – benar pergi.

”Aku kemari hanya ingin mengatakan—” Junho kembali terdiam, menahan agar airmatanya tak mengalir keluar, agar ia tidak terlihat lemah dihadapan Nana, agar Nana tak mengkhawatirkan dirinya, agar ia terlihat tegar, ” —jaga dirimu baik – baik, jangan khawatirkan aku, jangan sesali apa yang sudah terjadi,

300 Detik.

”Jangan menangisi aku, jangan terlarut dalam kesedihan, dan jangan menyia – nyiakan hidupmu. Berjanjilah padaku, berbahagialah. Aku akan selalu memperhatikanmu, aku tak akan pernah meninggalkanmu,” Junho melepaskan pelukkannya.

”Aku akan selalu ada di hatimu,” katanya meletakkan telapak tangannya di dada Nana, sebelah tangannya mengangkat tangan Nana dan meletakkannya di dadannya, ”dan kamu akan selalu ada di hatiku,” lanjut Junho.

Junho melepaskan pelukkannya. “Sudah saatnya aku pergi.”

Airmata Nana kembali mengalir, lebih deras dari yang tadi. “Jangan tinggalkan aku, kumohon,” Nana berkata memohon. Dia tak ingin kehilangan laki – laki itu, dia sudah cukup banyak menderita selama kepergian Junho.

Junho menggelengkan kepalanya, terus menahan airmata agar tidak mengalir. “Waktuku sudah habis, aku kembali kemari hanya untuk mengucapkan—” Junho menelan ludahnya. Kalimat yang sangat sulit untuk di ucapkan, kalimat yang selalu tersangkut di tenggorokkannya sejak ia datang kemari, ” —salam pepisahan, selamat tinggal Nana-ah. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Hanya ada kamu, selamanya di hatiku,” Junho mengecup kening gadis itu lembut untuk yang terakhir kalinya.

Perlahan tubuh Junho menghilang, seperti glitter emas yang di terpa oleh angin.

”OPPAAAA!!”

0 Detik.

***


Sabtu, 19 Mei 2012.


Seoul, South Korea—Sebuah mobil BMW hitam tertabrak oleh sebuah truck pengangkut barang. Sopir truck tersebut mabuk dan menyebabkan sopir tersebut menancapkan gas sangat cepat, melebihi 100Km/Jam dan ketika berada di perempatan yang sepi, dalam traffic light, mobil BMW tersebut datang dari tikungan. Mereka tidak tahu jika ada truck yang sedang melaju sangat cepat, karena pada jalan yang dilalui truck itu, lampu traffic light berwarna merah. Dan kecelakaan pun terjadi. Mobil BMW itu berisi sebuah keluarga, 2 orang dewasa, 1 orang remaja, dan 1 orang anak kecil. 2 orang dewasa itu luka – luka dan 1 orang anak kecil itu terluka ringan, namun 1 orang remaja laki – laki itu meninggal akibat menyelamatkan adiknya—anak kecil—dari hantaman truck. Dia terlambat untuk di bawa ke rumah sakit, hingga akhirnya nyawanya tak terselamatkan. Keluarga itu baru saja pulang dari perjalanan mereka berlibur. Dan sekarang mereka harus melanjutkannya dengan pemakaman anak laki – lakinya.

***

”Berikan aku waktu, sebelum aku benar – benar pergi dari dunia, kumohon..” Junho memohon pada seorang malaikat, tubuh malaikat itu bersinar terang bagai di sinari dengan lampu. Sayapnya yang besar terkembang indah di belakang punggungnya.

Malaikat itu menyerah, sedari tadi Junho terus memohon dan meminta padanya, ”baiklah, tapi hanya satu jam. Dan selama satu jam itu kamu akan menjadi manusia. Setelah itu, kamu akan segera menghilang dari bumi.”

Junho tersenyum pahit, ”aku hanya perlu untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintainya, sampai kapanpun, bahwa ia akan selalu di hatiku, dan aku juga ingin menyampaikan.. salam perpisahanku untuknya.”

END.



by miiiuuu eonni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar